JAKARTA, KOMPAS.com - Di satu sisi, pembatalan tersebut dianggap melegakan, karena menurut para guru, UN silang atau campuran itu cenderung malah membuat beban siswa bertambah.
Di sisi lain, keputusan ini perlu ditindaklanjuti dengan cepat agar semakin tidak membingungkan, mengingat UN akan tetap berjalan tanpa mereka diketahui seperti apa bentuknya.
"Ini bukti ketidakseriusan pemerintah mengurus UN. Terus terang, sebagai pelaksana kita sempat terganggu juga ketika kebijakan UN silang ini akan dilaksanakan," ujar Romo Y. Alis Windu Prasetya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Kolese Gonzaga, Selasa (8/12), di Jakarta.
|